Setiap Orang Bisa Jadi Pemimpin

*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil observasi semata, tidak menggunakan referensi buku dan teori apapun. jadi kalau ada yang bertentangan dengan semua teori yang ada, harap dimaklumi dan dikomentari yah*

Ya, memang benar… Setiap orang bisa menjadi pemimpin. Bahkan seorang anak SD pun bisa! Yang menjadi permasalahannya adalah saat seseorang menjadi pemimpin belum tentu ia mampu memimpin dengan baik.

Semasa SMA, saya mendapatkan pelajaran tambahan mengenai kepemimpinan, dan saya sangat setuju dengan teori yang diberikan mengenai arti kepemimpinan: “kepemimpinan adalah ilmu dan seni untuk menggerakkan orang lain untuk mau melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan”. Karena kepemimpinan adalah ilmu, maka bisa dipelajari tapi karena juga adalah seni maka dibutuhkan talenta khusus. Penggabungan antara ilmu yang dimiliki dan talenta yang dibawa akan membawa seseorang menuju tampuk kepemimpinan dan mampu memimpin dengan baik.

Kepemimpinan adalah ilmu karena ada teknik-teknik yang perlu dimengerti dalam memimpin dan untuk bisa terarah ke tujuan tertentu, dan juga adalah seni karena ada unsur “rasa” yang perlu berikan dalam teknik tersebut. Banyak faktor luar yang membuat sebuah teknik perlu diatur sedemikian rupa sehingga bisa masuk dengan sesuai pada saat diterapkan.

Karena ada unsur seni tersebutlah yang menyebabkan tidak semua orang bisa menjadi pemimpin yang baik dan tidak selamanya usia dan pengalaman menjadi patokan kelayakan seseorang menjadi pemimpin. Seseorang yang telah mengabdi cukup lama dalam organisasi tersebut tidak serta merta bisa diangkat menjadi pemimpin organisasi, dan seseorang yang masih baru dalam sebuah organisasi seharusnya sangat bisa untuk diangkat untuk menjadi pemimpin. Seseorang yang usianya lebih tua bukan berarti bisa memimpin lebih baik dari yang lebih muda. Usia dan lamanya mengabdi seharusnya bukanlah menjadi satu-satunya tolak ukur untuk seseorang “sebaiknya” diangkat menjadi pemimpin.

Hal di atas cukup sering terjadi dan kebanyakan hal ini terjadi karena adanya perasaan tidak enak hati dari beberapa petinggi karena kalau bukan karena orang tersebut memiliki perilaku yang sangat baik atau orang tersebut menunjukkan keinginannya untuk naik jabatan tapi sebenarnya masih ada hal yang kurang dan akhirnya “dipaksakan” untuk naik. Saat pengangkatan tersebut dipertanyakan, jawaban yang keluar akan sangat panjang lebar yang intinya adalah masalah “urut kacang”, sudah lama dia di organisasi ini, sudah “saatnya” dia dipromosikan.

Saya sangat gerah kalau melihat atau mendengar seseorang diangkat untuk menjadi manager/pemimpin divisi hanya karena dia sudah lama bekerja. Kalau memang itu alasan yang sangat tepat untuk mengangkan seseorang menjadi pemimpin, pertanyaan saya berapa tahun minimal seseorang itu layak diangkat menjadi pemimpin? Apakah ada batas kadaluarsanya? Lantas mengapa ada yang sudah mengabdi hingga belasan atau bahkan puluhan tahun dalam organisasi yang sama tapi tetap saja masih di posisi yang sama? Untuk apa kita diminta untuk menunjukkan persaingan sehat kalau memang pada akhirnya yang dipilih adalah yang lebih tua usianya dan masa mengabdinya lebih lama?

Sering kali juga kita terperangkap untuk mengangkat seseorang karena dia mampu menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik bahkan melebihi target yang diberikan. Perlu diingat, kemampuan mengerjakan pekerjaannya ini tidak merepresentasikan kemampuannya dalam menerapkan ilmu/teknik dan seni dalam memimpin. Hal ini hanya sebagian kecil dalam cakupan penerapan elemen ilmu dan seni.

Contoh lain bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin tapi bukan berarti dia adalah pemimpin yang baik adalah kita mungkin pernah mengalami atau mendengar keluhan teman kita mengenai keanehan dari cara seorang atasan dalam memimpin timnya. Padahal atasan tersebut adalah orang yang sudah lama bergelut di industri atau bidang kerja tersebut. Ya, ini terjadi karena orang tersebut hanya memiliki ilmu nya saja, tapi tidak talentanya. Ia tahu pekerjaan apa yang harus di-manage oleh seorang atasan di industri tersebut dan bagaimana me-manage pekerjaan terebut tapi ia tidak tahu bagaimana me-manage orang-orang untuk bisa melakukan pekerjaannya masing-masing. Ia tahu teknik-teknik kepemimpinan tapi tidak punya talenta seni dalam kepemimpinan. Inilah yang kemudian menyebabkan hadirnya seorang pemimpin yang diktaktoris, banyak double standard di mana-mana, intimidating, temperamental dan kasar dalam memberi perintah (bukan tegas), dan lain sebagainya.

Lantas apa seharusnya yang perlu kita lakukan agar tidak terperangkap dan akhirnya memaksakan diri kita untuk kemudian menjadi pemimpin yang hanya menyusahkan tim-nya?

Yang jelas bukan dengan membendung ambisi kita untuk terus maju, karena itu juga merupakan hal yang salah. Yang perlu kita pahami terlebih dahulu adalah bahwa tidak selalu kita bisa menjadi pemimpin dalam segala hal. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kita bisa saja menjadi pemimpin yang baik dalam hal A tapi tidak dalam hal B. Kita mungkin bisa menjadi pemimpin yang baik saat kita memimpin dalam skala/level menengah tapi tidak dalam level yang lebih tinggi. Kita mungkin adalah seorang pemimpin yang baik di pekerjaan kita, tapi bisa jadi dalam pertemanan kita akan lebih berguna bila hanya menjadi “anggota tim” saja dan biarkan orang lain yang menjadi pemimpin dalam lingkup pertemanan tersebut. Pahami juga batas kemampuan optimal kita dan anggota tim lainnya, jangan memaksakan untuk selalu maksimal (baca tulisan saya mengenai bedanya optimal dan maksima di sini). Paling tidak, dengan menyadari hal-hal ini kita bisa mengurangi petensi untuk kita menjadi seorang pemimpin yang menyebalkan. Semoga ya…

 

Selamat berkarya dan menjadi pemimpin yang baik!

Cheers,

– AK –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s