Social climber atau ‘social climber’

*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil observasi semata, tidak menggunakan referensi buku dan teori apapun. jadi aklo ada yg bertentangan dengan semua teori yang ada, harap dimaklumi dan dikomentari yah*

Setiap orang adalah seorang social climber! setiap orang tentunya ingin dan selalu berusaha untuk bisa paling tidak mempertahankan keberadaannya di sebuah komunitas sosial tertentu atau bahkan meningkatkan dan meluaskan diri ke komunitas yang lebih baik lagi. Hanya saja, ada yang melakukan ini dengan cara yang bisa diterima oleh norma dan etika masyarakat dan ada yang tidak, yang kemudian kita juluki dengan kata social climber (dalam artian negtif).

Apa perbedaan dari seorang social climber dalam arti positif dan negatif ini? perbedaan yang cukup jelas yaitu pada titik berat seseorang tersebut melihat apa yang menjadi prestasi dan penghargaannya untuk bisa menghantarnya berada di suatu kelompok sosial tertentu.

Seorang social climber (positif) akan melihat bahwa prestasinya adalah hal-hal yang berupa pencapaian tertentu dalam proses kehidupnya seperti karir, pengetahuan dan kedewasaan. Hal-hal tersebutlah yang kemudian membawanya untuk bisa diterima dalam sebuah kelompok sosial elit tertentu. contoh mengenai karir, karena perjalanan karirnya sehingga ia bisa menjadi seorang pimpinan dalam perusahaannya secara alami membuat ia menjadi masuk dalam lingkungan pergaulan para pimpinan perusahaan atau bahkan pemilik usaha.  Bukan berarti ia akan meninggalkan lingkungan pergaulan sebelumnya pada saat ia belum di posisi tersebut, atau bahkan lingkungannya pun ikut bergerak ke arah yang sama, mereka bersama-sama menjadi pimpinan perusahaan atau pemilih perusahaan.

Bagi para social climber ini, apa yang mereka miliki berupa barang-barang mewah dan berbagai kemudahan-kemudahan dan perlakuan khusus adalah sebagai reward atas pencapaian tersebut. mereka berhak atas itu karena mereka pantas mendapatkan hal tersebut. Mencapai prestasi dalam karir, kedewasaan dan pengetahuan adalah kewajian dan harta, kemudahan akses dan perlakuan khusus adalah hak (mereka bahkan tidak memikirkan mengenai kelompok sosial mana mereka harus berada)

Berbeda dengan para social climber ini, seorang ‘social climber’ (negatif) melihat bahwa prestasinya adalah hal-hal yang dia miliki sepanjang kehidupannya. Barang mewah, kemudahan akses dan perlakuan khusus adalah prestasi pencapaian mereka dan bahkan sering kali (bahkan hampir selalu) mereka tidak memperdulikan mengenai pencapaian dalam karir, kedewasaan, dan pengetahuan. Mengapa demikian? karena mereka melihat bahwa kelompok sosial elit yang mereka sasar juga memiliki hal-hal tersebut.

Bagi para ‘social climber’ ini, barang-barang mewah, kemudahan akses dan perlakuan khusus adalah pencapaian mereka dan reward nya adalah mereka diterima oleh lingkungan sosial elit yang mereka sasar. mereka wajib mendapatkan hal-hal itu karena itulah yang dimiliki oleh kelompok sosial elit tersebut. Pada akhirnya, karena mereka tidak memiliki kematangan dalam karir, kedewasaan dan pengetahuan, mereka terjerumus dalam berbagai tindakan yang bertentangan dengan moral dan etika masyarakat seperti berhutang dimana-mana, menjadi kekasih orang-orang kaya yang juga tidak memiliki kematangan dalam karir, kedewasaan dan pengetahuan (dengan kata lain, simpanan). Memperoleh harta, kemudahan akses dan perlakuan khusus adalah kewajiban, diterima dalam lingkungan sosial elit adalah hak.

Seorang social climber mendapatkan pencapaiannya tidak dengan cara instant. Pasti ada proses pembelajaran yang ditempuhnya yang menhantarnya ke kondisi kesuksesannya dan karena itu ia akan sangat berhati-hati dalam menjaga prestasi yang sudah diperolehnya karena apa yang diperolehnya dapat dengan sangat mudah hancur hanya karena sebuah kelalaian kecil. Sementara bagi seorang ‘social climber’, karena fokus kesuksesannya adalah materi, maka yang ada dalam pikirannya adalah materi bisa dicari dan dikumpulkan, kelalaian kecil dalam menjaga materi yang dimilikinya tidak akan berdampak parah karena hal tersebut sangat riil dan bisa dikumpulkan lagi.

Kelalaian dalam hal karir, kedewasaan dan pengetahuan hukumannya adalah hilangnya kepercayaan sedangkan kelalaian dalam hal harta hukumannya adalah kemiskinan.

Dengan berbagai cara, halal atau tidak, harta dapat dikumpulkan dan kembali pada kondisi semula atau lebih dengan waktu yang bisa diperhitungkan. Sementara untuk bisa mendapatkan sebuah kepercayaan, hanya ada satu cara yaitu tak henti-hentinya menjadi seseorag yang selalu berprestasi dengan cara yang benar dan kita tidak bisa memprediksikan, dengan cara perhitungan apapun, kapan kepercayaan itu kita peroleh hingga orang lain datang dan memberikannya.

Lantas bagaimana kita membedakan seseorang yang sudah berada dalam sebuah kelompok masyarakat elit, apakah dia social climber atau ‘social cliber’? cara yang paling gampang adalah dengan mendengarkan topik pembicaraannya. Sama hal nya sperti penjabaran diatas, seorang social climber tak akan henti-hentinya berbagi pengalam nya tentang bagaimana ia bisa berada di level karir nya, bagaimana kedewasaannya bisa menjadi begitu kharismatik, dan/atau pengetahuannya bisa begitu dalam dan luas. Sementara seorang ‘social climber’ tak henti-hentinya membicarakan bagaimana ia bisa memiliki sebuah atau sekoleksi tas LV, betapa nikmatnya mendapatkan perlakuan khusus di hotel berbintang lima, dan/atau betapa mudahnya ia bisa mendapatkan akses ke sebuah pertunjukan berkelas. Seorang social climber akan berbagi mengenai tips n trik menjadi sukses, seorang ‘social climber’ akan berbagi mengenai apa yang dia miliki.

Kalau gw pribadi sering menggunakan kalimat ini:

“seorang social climber akan mengenakan tas LV saat berbicara mengenai proses kehidupannya menjadi sukses, sedangkan seorang ‘social climber’ akan mengenakan tas LV saat ia berbicara mengenai tas LV tersebut!”

So, let’s be a social climber not a ‘social climber’, karena seorang social climber akan dikerubuni oleh rasa kagum terhadap diri kita sendiri sementara seorang ‘social climber’ akan dikerubuni oleh pujian terhadap apa yang kita miliki, bukan diri kita.

cheers,

– AK-

6 thoughts on “Social climber atau ‘social climber’

    1. Trima kasih🙂
      Knp tas? Krn itu yg paling mudah dipahami. Selain itu branded bag saat ini memang menjadi sebuah penakar yg jelas ttg gaya hidup seseorang. Kl spatu, baju, celana, itu semua brand logonya tersembunyi di bagian dlm. Tapi branded bag, spt LV, logonya itu lah yg mjd motif dan asesoris dan di pertontonkan dgn jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s