Apakah “Keberuntungan” itu Ada?

(semua yang ada dalam tulisan ini adalah berdasarkan opini pribadi dari hasil observasi, tidak bermaksud untuk menetang salah satu agama ataupun kepercayaan)

Pernahkan kita berkata, “gw beruntung banget karena…” dan pernahkan kita mengulas kembali “keberuntungan” tersebut? Apakah benar-benar 100% sebuah kejadian yang sama sekali diluar dari apa yang kita sudah persiapkan? sekarang mari kita coba sama-sama evaluasi kembali, apakah benar kejadian-kejadian baik yang ‘tak terduga’ adalah keberuntungan, atau merupakan sebuah hasil pencapaian dari sebuah proses yang sudah kita persiapkan sebelumnya.

sebagai contoh, kita umpamakan si A yang sedang mendapatkan keberuntungan karena dia berhasil bekerja dalam bidang yang ternyata sangat sesuai dengan dirinya tanpa dia “rencanakan” sama sekali. Dalam hal ini, si A akan mengatakan bahwa ia sangat beruntung karena mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya sehingga ia bisa menikmati pekerjaan tersebut. sekarang mari kita tarik perlahan-lahan kebelakang.

Untuk bisa pada akhirnya menyadari bahwa pekerjaan yang dia tempuh sekarang adalah pekerjaan yang sesuai, pastinya si A pernah berada di posisi dimana ia harus memutuskan apakah ia akan menerima pekerjaan tersebut atau tidak. apabila pada saat itu ia memilih untuk tidak menerimanya, lantas apakah ia akan merasakan “keberuntungan” seperti yang sekarang ia rasakan? jawabannya belum tentu. bisa saja si A akan menjadi lebih stress dengan menerima pekerjaan lain atau mungkin ia akan mendapatkan pekerjaan yang belum sesuai yang kemudian akan menuntunnya ke sebuah titik pilihan baru untuk berhenti atau tetap bertahan.

di point ini, kita bisa melihat bahwa, ada sebuah “keputusan yang tepat” yang diambil si A yang menjadi hal penentu akan rasa “keberuntungan” si A.

Tarik lagi kebelakang, sebelum dihadapkan pada pilihan diatas, si A pasti akan melalui proses mencari pekerjaan. ah, kan bisa aja pekerjaan itu ditawarkan ke si A bukan pada saat ia sedang mencari, tapi memang ada yang datang dan dengan “serta merta” menawarkan pekerjaan tersebut. opsi pertama, si A mencari, berarti disini sangat jelas bahwa pekerjaan yang ia peroleh tersebut diperolehnya melalui sebuah proses pencarian dan dengan begitu jelas bahwa ini bukan “keberuntungan”. Karena sebuah hal yang diperoleh dengan cara kita mencarinya berarti kita memang “niat” untuk bisa mendapatkannya. Hal ini akan menurunkan nilai “keberuntungan” si A.

Lantas bagaimana dengan opsi kedua, pekerjaan tersebut ditawarkan pada dirinya? Tentu ada alasan mengapa si A bisa ditawarkan pekerjaan tersebut. Tidak ada orang yang akan berani memberikan penawaran begitu saja terhadap seorang calon pekerja tanpa terlebih dahulu mendapatkan reverensi. dalam hal ini, reverensi baik diperoleh melalui sebuah proses pembentukan diri dari si A untuk bisa mencapai titik tertentu sehingga orang-orang akan memberikan reverensi baik tersebut. Dengan demikian, nilai “keberuntungan” si A juga berkurang karena ternyata dia tidak serta merta ditawarkan tapi dia sudah mempersiapkan dirinya untuk bisa menjadi orang yang pantas untuk ditawarkan pekerjaan tersebut.

Dari dua situasi diatas, kita bisa melihat bahwa pada point ini si A mendapatkan adanya “peluang” berupa pekerjaan yang diperolehnya baik melalui mencari ataupun ditawarkan.

Kita tarik lagi kebelakang. Peluang melalui opsi pertama diatas dan keputusan yang tepat, tentunya tidak akan dialami jika si A tidak mempersiapkan dirinya dengan berbagai hal untuk membekali dirinya agar perusahaan tersebut bersedia menerimanya. Tidak ada orang yang akan bersedia menerima seorang karyawan tanpa merasa yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh calon karyawannya di masa lalunya menunjukkan bukti bahwa ia bisa mengemban tugas yang akan diberikan. Si A pasti pernah melakukan hal-hal yang bisa membuktikan perusahaan tempat ia bekerja bahwa ia cukup pantas diterima. Jika si A adalah fresh graduate, maka keterlibatannya di kegiatan kampus dan kuliah yg dijalaninya merupakan bentuk membekali diri yang dilakukan si A. Jadi, tidak dengan serta merta si A bisa mendapatkan peluang dari hasil pencarian pekerjaannya, tapi si A perlu “membekali diri dengan sangat baik” terlebih dahulu agar peluang tersebut jatuhnya pada dirinya dan bukan pada kandidat lain.

Lantas bagaimana dengan peluang melalui opsi 2? jelas sekali seperti disebutkan diatas, reverensi positif tidak akan datang jika kita tidak bisa memberikan bukti kepada orang lain bahwa kita mampu melakukan pekerjaan yang akan ditawarkan ke kita. sama saja dengan opsi pertama hanya mungkin bentuk nya berbeda yaitu bisa jadi kita pernah bekerja dibidang yang sama dan membuktikan bahwa kita sangat berkualitas di bidang tersebut. Dengan demikian, orang akan memberikan reverensi atau orang akan melirik diri kita dan menawarkan untuk pindah bekerja dengan dirinya karena prestasi yang sudah kita buat. Prestasi yang kita buat inilah yang merupakan “pembekalan diri dengan sangat baik” yang kita lakukan.

Selain ketiga hal diatas – pengambilan keputusan yang tepat, peluang, dan pembekalan diri dengan baik – masih ada satu hal lagi yang akan melengkapi apa yang kita sebut sebagai “keberuntungan”, yaitu dukungan dari lingkungan sekitar kita. Tanpa adanya dukungan dari lingkungan sekitar kita maka perasaan beruntung tersebut tidak akan pernah kita rasakan.

bentuk dukungan lingkungan untuk opsi pertama salah satu yang terpenting diantaranya adalah kandidat yang lainnya memiliki kualifikasi yang lebih rendah dari yang kita miliki. Selain itu banyak hal teknis yang memungkinkan menjadi dukungan lingkungan seperti dorongan dan informasi dari teman-teman kuliah si A untuk ia mengirim lamaran pekerjaannya, pengumuman lowongan pekerjaan di mading atau koran, dlsb. Sedangkan untuk opsi kedua, jelas bahwa reverensi positif yang diberikan teman atau atasan kita kepada tempat kerja baru si A adalah salah satu dukungan utama dari lingkungannya. Tanpa adanya kandidat yang lebih rendah kualifikasinya dari si A atau reverensi positif dari atasan atau teman si A, maka peluang tidak akan datang ke si A dan si A tidak akan melakukan pengambilan keputusan yang tepat dan pembakalan diri yang dilakukan si A akan menjadi lebih panjang lagi untuk akhirnya ia bisa mendapatkan siklus ini kembali suatu saat nanti.

Kita juga sangat sering keliru dengan mengartikan peluang yang datang dengan sebuah keberuntungan. Karena kalau dilihat hanya peluang lah yang tidak bisa kita ciptakan/lakukan. Itu pun tidak benar! sebuah kejadian bisa menjadi sebuah peluang bagi kita hanya apabila kita disudah membekali diri kita dengan sangat baik dan mendapatkan dukungan dari lingkungan. Karena kalau kita mendapatkan penawaran yang sangat tidak sesuai dengan pembekalan diri yang kita lakukan dan lingkungan pun tidak memberikan dukungannya. Sesuatu dikatakan sebagai peluang apabila dua pihak, dari dalam diri kita dan lingkungan diluar diri kita sepakat bahwa ada “kemungkinan” diri kita untuk bisa berhasil jika kita menjalani nya.

Lantas apakah dengan begitu dukungan lingkungan adalah penentu segalanya? kalau menurut saya tidak. Karena kalau dilihat dari proses diatas, dukungan lingkungan merupakan sebuah akibat yang diperoleh dari sebab yang kita lakukan yaitu pembekalan diri dengan sangat baik. dengan begitu, keempat hal ini merupakan serangkaian hal yang tidak bisa diputus begitu saja. Namun, titik penentuan apa yang kita sebut dengan keberuntungan ini adalah pada point dimana kita melakukan pengambilan keputusan yang tepat. Titik ini lah yang menutup rangkaian proses yang membawa kita pada apa yang kita pikir sebagai sebuah “keberuntungan”.

Berarti tidak ada donk yang namanya “keberuntungan”? Semuanya adalah “sebab-akibat”? Yang membedakan antara kita bisa menyadari hal ini sebab-akibat dan hal lain sebagai keberuntungan adalah kesadaran diri dalam menjalankannya. Suatu kejadian menjadi “keberuntungan” pada saat kita secara tidak sadar telah melakukan pembekalan diri dengan sangat baik yang membuat lingkungan kita, tanpa kita sadari juga, mendukung diri kita sehingga mendatangkan peluang dan kita memberikan sebuah keputusan yang tepat dalam menanggapi peluang tersebut.

Jadi, apakah benar ada kejadian dalam hidup kita yang merupakan sebuah “keberuntungan”?

cheers,

– AK –

3 thoughts on “Apakah “Keberuntungan” itu Ada?

  1. Nice one, Aurellio. Pernah baca Outliernya Malcolm Gladwell? Keberuntungan dan kesuksesan memang berasal dari keputusan-keputusan yang tepat, kondisi-kondisi yang tepat, dan tangan Tuhan tentunya🙂

    1. hehehe thank you Dayoe🙂
      gw pernah dengar tentang buku itu but to be honest gw belum baca buku itu sama sekali🙂

      well, kl soal tangan Tuhan, itu adalah hal yang tidak terlepas dari segala hal apapun dalam hidup kita termasuk ujian hidup jadi yah gw gak masukin ke sini karena itu sesuatu yg sudah pasti🙂

      cheers,
      – AK –

  2. Bener bngt brand….dulu ku cuma yakin bahwa keberuntungn itu tdk ad tanpa lepas dr rencana tuhan…sblum u bnyk yg tanya q knp tdk percy kberuntungn..ku hnya bisa mnjwb itu hsil dr proses..pi skrng ku tww alsn y mngp ku tdk prcy kbruntungn..
    Cherrs..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s