Beri Aku Waktu

Hampir sebagian besar kita pasti pernah merasakan sakitnya putus cinta, kecewanya dikhianati orang yang kita percaya, sedihnya ditinggal pegangan hidup, atau mungkin kemarahan yang luar biasa dalam sebuah pertengkaran, dan masih banyak lagi perasaan-perasaan negatif lainnya yang mempengaruhi jalan kehidupan kita. Dan setiap kali perasaan negatif itu datang, orang-orang di sekitar kita akan berusaha menenangkan kita dan secara tidak langsung mengatakan bahwa kita sebaiknya tidak tenggelam di dalam nya. Memang sebaikna tidak, tapi tidak semudah itu juga kita menghindari jurang perasaan tersebut dan orang-orang di sekita kita pun (seharusnya) menyadari hal itu.

Ada sebuah quote yang sangat benar adannya tapi (menurut gw) sangat tidak benar untuk dijalankan, Kita tidak akan merasakan sakit, kecewa, sedih, marah, dan lainnya, kalau kita tidak mengijinkan hati kita untuk merasakannya. Mengapa menurut gw ini adalah hal yang tidak benar untuk kita lakukan? karena kita ini manusia, kita diciptakan untuk bisa merasakan semua perasaan itu, kita diciptakan untuk bisa menggali diri kita dengan merasakan semua perasaan tersebut. Bayangkan kalau kita sama sekali tidak merasa sedih bila ada sebuah kedukaan, merasa kecewa bila ada pengkhianatan, merasa marah bila ada yang seenaknya terhadap diri kita? apa bedanya kita dengan robot berteknologi tinggi yang bisa melakukan segala pekerjaan manusia tanpa terganggu oleh lingkungan sekitarnya?

Sebenarnya, menurut gw, yang perlu kita lakukan adalah mengusahakan bagaimana caranya untuk kita tindak selamanya tinggal dalam jurang perasaan tersebut. Pada saat kita merasa sedih, kecewa, dlsb itu seharusnya menjadi ajan bagi diri kita untuk melihat kembali apa yang telah terjadi, mempelajarinya, dan mencari dimana letak kekeliruan yang ada untuk kemudian setelah kita mengetahuinya, kita fokuskan sebagai hal yang perlu kita hindari/rubah dimasa yang akan datang. Ini lah bagaimana kita “menikmati” kepedihan, kekecewaan, kemarahan, kesedihan tersebut. Tapi ingat! semua ada batas waktunya. Kita perlu untuk kembali ke permukaan dan menunjukan keberadaan kita pada dunia luar.

Jadi pada saat kita terjerembab dalam jurang perasaan tersebut, kita tidak hanya sekedar terseok-seok meratapi nasib dan menyalahkan diri kita dan/atau orang lain dan/atau kondisi sekitar atas apa yang terjadi. Dan sayangnya, hal ini lah yang sering kita lakukan, mencari kambing hitam dan fokus pada membuat kambing hitam tersebut sebagai korban perasaan kita.

Merasakan semua kepedihan, kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan disini bukanlah untuk “menyiksa” diri kita. Tapi selain ini melatih dan mempertebal kekuatan diri kita, ini juga menjadi sebuah momen untuk kita melatih diri kita menjadi orang yang jauh lebih sensitif terhadap perasaan orang lain. Karena pada saat kita melihat orang yang bersedih, kita tau bagaimana hal itu menyiksa batin nya, melihat orang kecewa, kita tau bagamana hal itu merusak kepercayaannya, melihat orang sakit hati, kita tau bagaima pedihnya hati orang tersebut, dan ketika seseorang meluapkan emosi kemarahannya, kita jua paham bagaimana kesalnya perasaan orang tersebut terhadap apa yang dihadapinya. Dengan demikian, empati yang kita berikan akan bisa dirasakan dengan nyata oleh orang lain saat kita berada diposisi sebagai orang yang berusaha menenangkannya. Bukan sekedar bentuk perhatian yang diberikan karena merasa hal itu adalah “kewajiban” mereka sebagai teman atau saudara kita.

Jadi, bila kita dalam kondisi merasa sedih/kecewa/sakit hati/marah saat ini, maka “nikmati” lah perasaan itu dan menangislah bila kita memang bersedih dan sakit hati, berteriak lah bila kita memang marah, bermurung lah bila kita memang kecewa… Beri “aku” waktu untuk istiraha sejenak dari ketegaran agar bisa mengumpulkan kembali kekuatan dalam hati untuk kembali bangkit

I’ve been trough it all, and what I have written is what I have learned over through all that.

baca juga tulisan gw sebelumnya tentang kisah teman gw yang sedang patah hati disini

Cheers,

– AK –

2 thoughts on “Beri Aku Waktu

  1. Terkadang kita perlu waktu “me time” untuk proses Penemuan diri. Menghabiskan waktu untuk diri sendiri memberikan kita kesempatan untuk menemukan hal-hal tentang diri kita sendiri yang sebelumnya belum kita ketahui. Selama kita bertumbuh dan menjalani hidup, kita belajar bagaimana mengenali pribadi orang lain, namun jarang untuk berkenalan mendalam dengan diri kita sendiri, kesukaan kita, apa yang tak kita suka, tanpa adanya kehadiran orang lain..🙂

    All the best

  2. aku mendelete setiap kesakitan dan tidak akan bertoleransi dengannya🙂, memilih naif dan karena cuma itu yang bisa kulakukan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s