Belajar dari kasus Prita

Mungkin banyak dari kita sekarang yang sedang menunjuk-nunjukan jari (baik dalam artian sebenarnya ataupun tidak) kepada pihak RS Omni International. Akan tetapi, dibalik segala hal negatif yang dituliskan oleh Mba Prita dalam suratnya, kita juga punya kewajiban untuk menarik pembelajaran untuk diri kita masing-masing, baik kita sebagai konsumen jasa sebuah perusahaan maupun sebagai pengguna jasa layanan internet (blogger/anggota milis/hanya sekedar browsing2)

 

Dari sisi manajemen RS Omni

Mungkin pihak manajement bisa untuk belajar lebih “jeli” lagi melihat mana yang perlu untuk ditindaklanjuti hingga ke meja hijau dan mana yang cukup dengan memberikan surat balasan. Dalam kasus Mba Prita ini, jika memang pihak RS Omni melakukan semua hal yang disebutkan oleh mba Prita di surat pembacanya, maka sudah sangat sewajarnya pihak RS Omni bertanggungjawab untuk menyelesaikan kelalaiannya dan memberikan penjelasan serta mengembalikan “kepuasan” dari pengguna layanan jasanya. Bila sudah terpuaskan, maka pihak RS Omni tinggal melayangkan surat klarifikasi yang menyatakan maslaah sudah terselesaikan. Seandainya pun hal yang dituliskan oleh Mba Prita tidak benar, sebuah surat konfirmasi yang menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya sudahlah sangat cukup.

Membawa masalah ini ke meja hijau adalah sebuah tindakan yang terburu-buru (tidak salah, tapi juga bukan waktu yg tepat). Ada baiknya segala data dan informasi dikumpulkna selengkap-lengkapnya terlebih dahulu (mungkin sudah dilakukan) dan segala “celah” dicari “tambalannya”.

Kalau kita lihat lagi, tanggal surat pembaca ini sudah hampir setahun yang lalu, yang ternyata tidak diketahui oleh jutaan orang (seperti saat ini). Kalaupun pihak management sudah melakukan “pembenahan” dalam system layanannya, maka seharusnya mereka cukup berdiam diri saja saat ini, karena masyarakat lain juga akan menilai apakah benar separah itu atau tidak. Kecuali kalau Mba Prita adalah satu-satunya pasien mereka sehingga hanya dia yang bisa memberikan testimonial tentang pelayanan RS Omni, tapi pada kenyataanya kan tidak.

Yah, hasilnya bisa kita lihat sekarang, niat hati ingin menjadikan Mba Prita sebagai pihak tertuduh, saat ini malah berbalik menjadi RS Omni yang menjadi tertuduhnya di mata masyarakat. Ribuan bahkan jutaan orang sekarang jadi mengetahui “keburukan” yang mungkin pernah terjadi.

 

Dari sisi masyarakat pengguna layanan internet

Kita pun sebagai individu juga perlu belajar dari hal ini. Jangan pernah beranggapan enteng terhadap hal yang kita tulis di internet. semakin banyaknya layanan di internet yang memberikan kemudahan kita dalam mengaksesnya dan juga memberikan “wadah” untuk berkata-kata, terkadang memebuat kita terlena. Kita lupa bahwa saat ini, sudah mulai banyak masyarakat Indonesia yang juga sudah “melek” internet.

Yang paling gampang kita lihat saat ini adalah facebook dan friendster. kedua jejaring pertemanan dunia maya ini memberikan kemudahan bagi kita untuk menulis dan/atau melihat status atau komentar orang-orang baik tentang diri kita, orang lain, atau keluhan yang belum tentu benar terhadap sebuah instansi. Data-data diri pun tertera dengan sangat lengkapnya (tergantung apakah kita mau memberikan semuanya secara jujur atau tidak). Dan kalau kita lihat, banyak orang (setidaknya yang saya kenal cukup banyak) yang dengan sangat santainya menuliskan makian, celaan, komentar negatif, ataupun tudingan yang belum tentu benar di status ataupun kotak komentar tanpa kita sadari bahwa segala tulisan itu akan terekam selamanya disana dan tulisan itu bisa membawa/memuat data diri kita.

Belakangan ini muncul lagi sebuat situs jejaring yang khusus memberikan layanan status terbaru, namanya twitter (tidak bermaksud mempromosikan). Sama seperti facebook dan frienster, kata-kata makian, celaan, tudingan, dlsb juga sering mewarnai lembaran twitter ini.

Mungkin dengan masalah yang menimpa Mba Prita ini bisa sedikit menyadarkan kita bahwa siapapun bisa saja membacanya dan merasa tersinggung atau terganggu akan tulisan itu dan dengan serta merta bis saja “memperpanjang” hal tersebut ke meja hijau. Dan hal itu adalah sepenuhnya hak orang tersebut untuk “memperpanjangnya”.

mengutip tips dari salah satu blogger Indonesia, ndorokakung, kita sebagai blogger dan pengguna layanan jasa internet terikat pada hukum yang berlaku maka sudah sewajarnyalah kita juga mempunya kode etik dalam menuliskan segala sesuatunya di internet.

 

Mudah-mudahan semua pihak dapat mengambil hikmahnya dan lebih berhati-hati dalam bertindak, tidak hanya mementingkan luapan emosi semata.

 

– AK –

One thought on “Belajar dari kasus Prita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s