“Aku”, “Kamu”, atau “Kita”?

Mungkin hampir semua udah familiar dengan kalimat “It’s not about me or you, but it’s about us”… yah, kalau yang belum pernah denger, kalimat ini sering banget dipakai untuk “memohon” pengertian dari orang lain terhadap diri kita… paling pas dan paling sering dipakai pada saat pacaran hehehehe… saat yang satu merasa diabaikan, tidak diperhatikan, dicuekin, singkatnya tidak mendapatkan apa yang diharapkan dari pasangannya….

tetapi sebenernya, hal ini tidak hanya untuk yang pacaran, dalam pertemanan pun dibutuhkan hal ini. Pengertian akan apa yang dibutuhkan oleh sahabat kita, gak perlu yang muluk-muluk as simple as meluangkan waktu dengan mereka… Terkadang si “aku” merasa bahwa beban aku adalah yang paling berat, dan orang lain harus “kagum” pada diriku karena “aku” bisa survive dengan kondisi seperti ini… kondisi ini tanpa sadar membut “aku” terus-terus menuntut untuk orang lain “mengasihani” si “aku” dengan terus harus mengerti dan menerima segala kelakuan buruk “aku”, karena “aku” mengalami masalah hidup yang paling berat.

Sebut saja segala kejadian yang ada di sinetron-sinetron yang kerap kali terkesan terlalu dramatis dan melebih-lebihkan penderitaan seseorang pernah dialami si “aku”. Orang tua yang tidak harmonis, saudara kandung yang saling membenci, anak-anak yang merasa tidak diperlakukan adil satu sama lainnya, belum lagi aib orang tua dan saudara-saudara si “aku” di lingkungan sosialnya dan perlakuan lingkungan terhadap keluarganya…. semuanya tampak tiada akhirnya… kebohongan demi kebohongan, sakit hati demi sakit hati, dendam demi dendam…. sampai disini kita semua mungkin bisa langsung tertawa dan berkata “sinetron banget sih hahahaha….”. Ini semua belum ditabah dengan masalah yang datang dari dalam diri si “aku”… Waaahh, tambah sinetron lagi donk😉

Ya, “kamu” pasti menganggapnya sinetron dan terlalu dilebih-lebih kan… karena mungkin (dan juga pasti) “kamu” menganggap “aku” cengeng, melankolis, terlalu sensitif, bla bla bla… karena “kamu” merasa masalah yang “kamu” hadapi lebih parah dari pada si “aku”. Hidup dan bertumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua yang utuh, harus membiayai berbagai pengeluaran keluarga, berjuang mendapatkan pengakuan dari lingkungan, dan masih banyak lagi hal-hal dari luar diri si “kamu”.  Ditambah lagi dengan hal-hal dari dalam diri si “kamu”… semuanya berputar sama halnya dengan si “aku”… Dan benar, buat si “aku” hal-hal tersebut belum seberapa dengan yang dia jalanin…

setiap kali si “kamu” bercerita kalau hidupnya berat, si “aku” akan mulai membandingkan dan diam-diam menganggap masalah si “kamu” belum seberapa dengan si “aku”. Sebaliknya, si “kamu” juga akan diam-diam menganggap masalah si “aku” sebagai hal enteng… terus… terus… dan terus… jadi, dimana ujungnya perbandingan kehidupan yang susah ini? jawabannya adalah tidak akan ada ujungnya jika “aku” akan terus menjadi “aku” dan “kamu” terus menjadi “kamu”

Disinilah peran si “kita”… karakter yang unik, kaya akan pengalaman, dan selalu terlihat “baik” dan paling dikagumi oleh si “mereka”. Menggapa “kami” bisa sehebat itu? Karna kami sudah mengalami hal yang paling buruk diantara “aku” dan “kamu”. keluarga yang tidak harmonis, hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh, tumbuh dan berkembang diantara saudara yang saling membenci, tetapi tetap harus membiayai beberapa ketuhan keluarga, terbiasa dengan aib-aib keluarga, serta berjuang untuk mendapat pengakuan dari lingkungan, dan masih banyak lagi…. dan ini belum ditambah lagi dengan konflik dalam diri si “kita”…

Mudah-mudahan semua yang baca mengerti apa yang saya maksud dengan perumpamaam ke-3 karakter “aku”, “kamu”, dan “kita”. Sedikit menjelaskan, “kita” adalah karakter yang suda mengalami apa yang dialami oleh “aku” dan “kamu”. Bagaimana “kita” bisa sebegitu menderitanya? apakah “kita” adalah salah satu karakter dapam sinetron? Hehehehe…. sebenarnya “kita” akan ada kalau “aku” dan “kamu” mau berhanti membandingkan siapa yang paling menderita dan siapa yang harus mendapat perhatian lebih dari yang lain… selama “aku” masih melihat karakter yang ada sebagai “aku” dan begitu juga dengan “kamu”, maka karakter “kita” tidak akan pernah ada…. dan kareakter “kita” akan dapat bertumbuh menjadi pujaan karakter “mereka” apabila “aku” dan “kamu” bisa bekerjasama membangun satu sama lainnya… dan bisa saling mengerti bahwa baik “aku” maupun “kamu” adalah sama-sama manusia yang punya kelemahan, perasaan, dan tidak selamanya bisa menjadi orang yang selalu bisa mengerti akan kebutuhan yang lainnya, dan juga mengerti baik “aku” dan “kamu” harus bisa menurunkan egonya masing-masing untuk sedikit mengorbankan kesenangan pribadi untuk mendapatkan kesenangan bersama….

karakter “kita” adalah karakter yang terbentuk saat “aku” bukanlah hanya “aku”, “kamu” bukan lah hanya “kamu”, akan tetapi saat “aku” adalah “kamu” dan “aku” dan “kamu” adalah “aku” dan “kamu”…. hehehehe agak-agak bbelibet yah.. “aku”, “kamu”, “kamu”, “aku”, “aku” dan “kamu”, “kamu” dan “aku”… well, sebenernya dalam prakteknya gak akan sebelibet ini… cukup dengan berhenti sesaat dikala kita sedang menikmati apa yang bisa membuat diri kita sendiri menjadi senang dan menemani orang lain menikmati kesenanganya…

contoh kecil, saat kita sedang lahap-lahapnya menikmati makanan favorit kita, berhentilah sejenak dan perhatikanlah teman, saudara, kekasih, sahabat kita melahap makanan favoritenya dan temani dia menikmati makanan tersebut. Mungkin bisa kita tanyakan “enak banget yah makanan kamu?” dan biarkan dia menjelaskan betapa nikmatnya makanan tersebut. Setelah dia selesai, lanjutkan kembali makanan kita… dengan demikian, selain kita bisa mendapatkan gambaran kenikmatan makanan orang lain, kita sendiri menjadi lebih lahap menikmati makanan kita selanjutnya karena sudah menahan “napsu makan” yg ada… atau bahkan kita jadi mengerti dan tergoda untuk suatu saat mau mencicipi makanan yg dipesan teman kita… sehingga kita tidak terpaku hanya pada 1 jenis makanan…

Dari contoh kecil diatas, apa yang akan kita peroleh? kita menjadi mengetahui akan hal yang baru, mengetahui sesuatu yang belum prnah kita coba sebelumnya, sehingga saat kita mencobanya, kita sudah tau “ranjau-ranjau” nya ada dimana saja hehehehe… dan yang gak kalah pentingnya adalah, lingkungan kita aka selalu sadar bahwa kita ada dan kita memperhatikan mereka. Dengan kondisi ini, lingkungan kita pun akan dengan sendirinya memperhtikan kita juga… ya tapi perlu diingat, itu harus dimulai dari diri kita dulu baru kita bisa mendapatkannya kembali… komunikasi 2 arah harus dimulai dari 1 arah… tidak bisa tiba-tiba sudah terjadi dialok kalau tidak ada yang membukanya

Nah, bila hal ini sudah terjadi, maka karakter “kita” akan terbentuk antara “aku” dan “kamu”… antara diri kita dengan teman kita, diri kita dengan pacar kita, diri kita dengan orang tua, bahkan antara diri kita dengan hewan piaraan kita… dan saat itu terjadi, karakter “mereka” akan mulai memuji nya dengan pertemanan yang kompak, pasangan serasi, keluarga yang harmonis, dan piaraan yang setia hehehehe… Tapi ada yang perlu digaris bawahi, semua butuh perjuangan dan butuh waktu untuk membuat nya menjadi berhasil, terkadang tidak dengan hanya sekali usaha, dibutuhkan beberapa kali percobaan… hehehehe…

Yah… tulisan ini bukan untuk menggurui atau memberitahukan apa yang benar dan apa yang salah yah.. justru kalau ada yang kurang, tolong di inform yah biar gue juga bisa belajar lebih lagi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s