Life itself is a journey

kita mungkin udah sering banget denget kalimat di judul… tapi sering kali kita tidak menyadarinya dan tidak menggunakan nya dengan baik.. maksudnya?

 kalau hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan, maka sudah tentu akan ada banyak hal yang akan kita alami. setiap detik setiap tempat pasti punya artinya masing-masing… dan di setiap perjalanan, kita harus selalu siap memutuskan arahnya mau kemana, apakah terus dengan apa yang ada, atau sedikit berbelok untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, atau mungkin malah berbalik arah dan mencari sesuatu yang hilang/tertinggal untuk kemudian kembali berjalan dengan sebuah keputusan yang baru….

hmmm… berbalik arah? emangnya bisa kita memutar waktu?? tentu tidak , berbalik arah disini adalah kita sedikit menarik diri dari jalan yang sudah kita tempuh, kembali ke pola atau gaya hidup yang sebelumnya pernah kita jalanin… contoh: dulu kita sebelum mengenal begitu banyak brand, kita masing menggunakan barang2 dengan harga murah dan tidak perduli dengan brand, yang penting adalah cocok atau tidak… nah, mungkin kita perlu untuk kembali ke gaya tersebut… ini hanya contoh ringan yah… tapi yang jelas, sama halnya dengan sebuah perjalanan, jika kita berbalik arah maka pastinya kita sudah tau rintangan apa yang akan ada di depan kita, jadi kita harusnya bisa lebih siap dengan segala tantangan tersebut…

hidup itu adalah pilihan, kita yang menentukan akan seperti apa hidup kita ini… masa depan kita sepenuhnya ditangan kita.segala tantangan baik yang sudah pasti maupun yang belum adalah pilihankita untuk mau mengahadapinya atau mencari jalan lain untuk mencapai tujuan kita, atau bahkan benar2 lari dari tantangand dengan meninggalkan jalan tersebut dan melupakan hal indah apa yang bisa kita capai setelah melewati tantangan tersebut…

Ada sebuah tips dari Mardiana ika, saat dia berbicara di talk show HR & CR annual conference PT. Unilever Indonesia, Tbk., “saya tidak pernah melihat crisis yang saya jalanin itu sebagai sebuah crisis, jalani saja semuanya apa adanya tanpa berpikiran bahwa ini adalah crisis. kita tidak akan pernah terbebani apabila kita tidak menganggap crisis yang ada sebagai sebuah crisis, melainkan sebagai sebuah bagian dari perjalanan hidup yang musti kita jalani. yang saya lakukan adalah memikirkan hal apa yang bisa saya lakukan untuk bisa merubah situasi sekarang menjadi lebih baik buat saya dan lingkungan sekitar saya”. memang kedengarannya klise banget yah, gampang baget dia ngomong seperti itu… TAPI, pernah kah kita sebagai individu melihat kembali kebelakang dan mempelajari kehidupan kita sendiri? karena tanpa kita sadari, kita sering sekali melakukan apa yang dikatakan mardiana Ika. Contoh kecil, kalau kita punya deadline, kita pasti akan memfokuskan diri kita untuk bagaimana caranya kita dapat memenuhi deadline tersebut. kita tidak terpaku dan merenungi kenapa sih deadline nya ada? kenapa sih saya dihadapkan pada deadline tersbut? karena kita tau, itu tidak akan menyelesaikan pekerjaan kita pada waktu yang sudah ditetapkan…

Dalam acara talkshow tersebut, Mardiana Ika, entah disadari atau tidak, ternyata banyak sekali membagikan insigh yang sangat bermanfaat. banyak hal yang beliau sampaikan, sebagai seseorang yang telah mencapai suatu titik kesuksesan tertentu, membuat banyak pihak tersipu malu. diantaranya adalah alasan dia tidak merubah kewarganegaraannya. Bangi Mardiana Ika, sebagai warga negara Indonesia ia mempunya ruang yang lebih besar untuk melakukan berbagai improvement dan baginya tidak penting apa warganegaranya karean seharusnya kita semua didunia ini adalah saudara… dan ada sebuah kalimat penutup yang cukup menggugah yaitu “saya lahir disini (Indonesia) dan saya mau untuk mati disini juga.”

sehubungan dengan hidup adalah sebuah perjalanan, banyak dari kita yang memikirkan untuk bisa hidup dan menikmati indahnya menjadi seorang warga negara asing… sementara orang yang sudah mencapai kesuksesan dan telah menempuh sebuah perjalanan hidup yang cukup panjang dan berliku malah memilih untuk tetap menjadi warga negara indonesia. Lantas, apakah kita mau untuk berbalik arah dan mencoba kembali menjalani gaya hidup kita saat kita masih belum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan kita untuk menjadi bagian dari masyarakat eropa atau amerika? toh seperti apapun, kita tidak bisa merubah secara permanen DNA tubuh kita yang memang memiliki ciri khas orang Asia… apakah tidak sebaiknya kita menerima keunikan kita dan justru menjadi mutiara diantara hamparan pasir putih di tepi pantai?

-AK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s