Kerja Semaksimal Mungkin atau Seoptimal Mungkin?

5 05 2009

“Kamu di tempat kerja baru punya waktu untuk diri sendiri gak?”

Pertanyaan diatas baru-baru ini gue terima dari salah satu teman dekat gue. Jawaban gue kira-kira seperti ini,”Di tempat baru ini, jauh lebih banyak hal yang harus gue supervisi dari tempat kerja gw sebelumnya. Memang yang dispervisi itu beda, tapi beban kerja tidak kurang dari yang dulu bahkan lebih. Tapi, gw tetap punya waktu buat diri gue sendiri sama halnya seperti ditempat kerja gue sebelumnya.”

Dan pembicaraan berlanjut dengan menjawab pertanyaan “kok bisa?”, “gimana caranya?”, “emang berani nolak beban kerja?”, dan seterusnya. Pembicaraan yang sebenarnya jawabannya sangat lah simple tapi memang sangat susah diterima dan dimengerti kalau kita sediri belum menjalankan jawaban tersebut.

Ya, jawabanya adalah jawaban yangsama dengan pertanyaan besar di judul tulisan ini, apakah kita perlu bekerja semaksimal mungkin atau seoptimal mungkin. Dan jawabannya adalah bekerja lah seoptimal mungkin, karena hnya dengan begitu kita bisa mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.

Pasti kita akan bertanya lagi, bagaimana membedakan bekerja semaksimal munkin dengan bekerja seoptimal mungkin? Bukan kah kalau kita melakukan sesuatu secara maksimal maka kita akan memberikan sebuah hasil yang maksimal juga? Lantas bagaimana kita bisa mengatur pekerjaan kita untuk bisa bekerja seoptimal mungkin dan bukannya semaksimal mungkin? dan seterusnya, dan seterusnya, dan sterusnya…

Sebenarnya gue mendapatkan hal ini dari hasil mempelajari salah satu mata kuliah tentang tanah waktu di kuliah dulu (oh ya, sekedar informasi, Gue lulusan Universitas Katolik Parahyangan jurusa Teknik Sipil). dalam mata kuliah tersebut, san Dosen sangat menegaskan bahwa tanah itu mempunya sebuah kurva dan puncak kinerjanya merupakan titik optimal bukan maksimal. Yah, singkatnya kira-kira seperti itu.

Untuk menjelaskan lebih jauh, Gue akan mencoba menggunakan sebuah perumpamaan yang jauh lebih familiar dengan kita semua. Sekali lagi, perumpamaan ini adalah filosofi yang dekat dengan keseharian kita, tapi kita terlalu buta untuk bisa memngolahnya menjadi caa berpikir yang baik. Mari kita ambil sebuah gelas bening (agar terlihat isi di dalamnya) dan mari kita tuangkan air kedalamnya dengan tujuan untuk kita minum. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah akan kamu tuang hingga menyentuh bibir gelas sebelum tumpah atau kamu akan berhenti menuangkannya kira-kira 1cm dibawah bibir gelas? Ya, pasti kira-kira 1cm dibawah gelas. Nah, kenapa demikian? karena jarak kira-kira 1cm dibawah gelas itu adalah batas optimum daya tampung gelas tersebut sedangkan batas maksimum daya tampung gelas tersebut adalah tepat pada bibir gelas sebelum tumpah. Ada yang sudah bisa menebah kelanjutannya dan hubungannya dengan hasil yang maksimal?

Yuk, kita lanjutkan saja. Apa yang terjadi bila gelas tersebut dituang dengan kapasitas maksimum? bisa kah kita meminumnya? Bisa! Tetapi apa efek lainnya? pasti akan ada air yang tumpah/meluber saat kita angkat dan biar tidak tumpah, kita menambahkan usaha lebih dalam menjaga agar airnya tidak tumpah. Bahkan saat meminumnyapun kita prlu dengan sangat hati-hati biar tidak tumpah juga saat kita meminumnya. Bandingkan dengan kalau kita berhenti di batas optimum gelas tersebut. Dengan sangat mudahnya kita mengangkat gelas tersebut dan meminum isi airnya dan melanjutkan aktifitas kita tanpa harus memnutupi atau membersihkan sisa tumpahan di baju kita.

Nah, semakin jelas kan? Gelas itu bisa kita samakan dengan wadah daya tampung kemampuan kita terhadap pekerjaan kita. Batasnya ada dimana, itu tergantung individu masing-masing. sama seperti gelas, gelas wine mempunyai batas optimumnya tersendiri agar tetap terlihat cantik dan menarik dan mempunya kenikmatan tersendiri dalam meminumnya dan gelas cangkir juga punya titik optimumnya sendiri. begitu juga dengan kita manusia, kita punya batas optimum yang berbeda-beda. Akan tetapi, seberapa tinggi batas optimum tersebut, pasti hasilnya maksimal.

Kalau begitu kita harus bisa membatasi pekerjaan kita, dong? Ya, bila itu sudah berada di batas optimum kita. Karena kalau belum di titik optimum kamu, maka kamu adalah orang yang malas bukan seorang yang work smart and play smart (Gue lebih setuju dengan istilah ini dari pada work hard, play hard… why should work hard if u can work smart?)

Tapi nanti dibilangnya tidak kooperatif dan tidak bisa menerima tantangan? Terserah apa kata orang, selama kamu memberikan kontribusi positif, semua klien kamu senang (bila berhubungan dengan jasa dan konsultasi), pekerjaan kamu selalu selesai sesuai deadline, target selalu tercapai, apakah mungkin perusahaan akan memecat kamu atau perusahaan lain tidak melirik kontribusi tersebut untuk mendapatkan sebuah benefit lebih secara simbiosis mutualisme dari kamu? Ini yang teradi pada diri gue, karena bisa memanfaatkan titik optimal, salah satu klien gue melirik kontribusi positif gue tersebut dan akhirnya mempekerjakan gue. Dan perusahaan lama, tentunya mereka tidak dngan mudah melepa kepergian gue :)

lantas apa yang gue lakukan selama di perusahaan lama sehingga bisa bekerja seoptimal mungkin? Ya, gue membatasi beban kerja gue sesuai dengan analisa terhadap kapasitas kerja tim gue. jadi memang tidak seenaknya menolak pekerjaan tetapi karena gue juga cukup tau batas kemampua gue, rekan sejawat, dan tidak kalah pentingnya bawahan gue. Awalnya agak merasa sedih sendiri, karena ada beberapa klien yang menarik tapi tidak bisa gue terima atau tidak diberikan ke gue karena batas optimal tersebut. Walaupun sebenarnya masih bisa ditambahkan, seperti gelas ditambahkan air hingga ke batas bibir gelas, tapi gue tau kalau itu hanya akan membahayakan kinerja positif tim gue dan akan memberikan dampak negatif bagi keseluruhan hasil kerja tim gue. Tetapi sekali lagi, gue tetap mendapatkan promosi jabatan, pujian-pujian dan kepuasan dari klien-klien gue, tawaran menjadi bagian dari perusahaan mulinational yang dulunya adalah klien gue, dan tentunya tawaran-tawaran yang menggiurkan saat henda meninggalkan kantor lama. Siapa yang tidak menginginkan diperlakukan seperti itu?

Jadi yang perlu kita lakukan saat ini adalah evaluasi diri kita, rekan kerja kita, atasan kita, dan bawahan kita untuk mengetahui gambaran kapasitas optimal tiap individu dan gabungkan kapasitas tersebut menjadi kapasitas tim dan lihat bersama, dimana titik optimal tim kita. Dijamin kita pasti akan memberikan hasil yang maksimal, dan tidak perlu lagi mempertanyakan “Apakah masih bisa Gue meluangkan waktu untuk diri gue sendiri” karena jawabannya sudah pasti YA!

 

- AK -