Amazing Venezia

3 01 2010

Untuk kota yang satu ini, kata “Amazing” buat gw adalah kata yang tepat! Sebuah kota yang sangat unik. Sementara berbagai negara berusaha “menambah” dataran untuk memperluas dan membangun kota-kota nya, Venezia tetap bisa berkembang dengan keterbatasan tanah dan banyaknya sungai-sungai di dalam kota nya. Kalau Indonesia dikenal sebagai “negara bahari” maka kota Venesia bisa dikatakan sebagai “kota bahari” :) .

Venezia, kota bahari yang mengagumkan

Gondola, angkutan tradisional Venezia

Transportasi utamanya adalah transportasi air. “Bus”/”kreta” dalam kota mereka adalah kapal berkapasitas sekitar 100 orang yang mereka sebut boat. Sistem pembelilan tiket boat mereka tidak kalah modernnya, ada loket pembelian tapi ada juga kartu berlangganannya seperti kartu subway/metro/trem/bus, seperti layaknya kota-kota lain di Eropa. “Taxi” mereka adalah perahu boat berkapasitas 2-5 orang dan “becak”/”bajaj” mereka, sebagai sarana transportai tradisional khan Venezia, adalah perahu gondola.

Santa Maria Gloriosa di Frari, Salah satu gereja tua yang masih dipergunakan hingga saat ini

Tidak hanya itu, bangunan-bangunan dengan design tua ala renaissance yang menghiasi kota Venezia di jaman yang modern ini menambah nilai “amazing” dari kota ini. Tapi, tidak semuanya adalah bangunan peninggalan jaman dulu. Sebagian besar adalah banguna baru yang dibuat tetap dengan mempertahankan design ala renaissance ini. Venezia benar-benar mempertahankan ke-tua-an kotanya, sama juga seperti di Roma, dan hal ini adalah untuk membangun dan memajukan kota tersebut.

salah satu pasar malam tradisional di Venezia

Selama gw di Venezia, berjalan kaki tampaknya sebuah hal yang sangat menarik untuk dilakukan. Karena begitu banyak hal yang menarik yang bisa di lihat. Tapi harus hati-hati, jangan coba-coba untuk menghafal jalan di venezia! Jalanannya tidak seperti jalan di kota-kota, tapi sangan sempit dan lebih mirip gang-gang pinggiran kota dengan blok-blok yang tidak besar. Paling panjang jalan lurusnya kira-kira 200 meter. Bedanya, gang ini dikelilingi oleh bangunan tinggi bergaya renaissance, sedangkan gang di pinggiran kota lebih seperti area kumuhnya.

Procuratie Vecchie dekat dengan Palazzo Ducale, istana tempat tinggal pemimpin dari Republic of Venice pada jaman dulu. Keduanya terletak di area Piazza Saint Marco. Dibalik Procuratie Vecchie ini lah terdapat pertokoan brand-brand fashion ternama seperti Louis Vuitton dan Gucci.

Namun, dibalik semua gaya kota tua ala renaissance ini, berbagai macam modernisasi juga terjadi. Ini membuktikan bahwa mereka tetap berkembang dengan cara mereka sendiri. Dan hal itu justru menjadi daya tarik terbesar bagi para turis yang juga berarti peluang bisnis yang sangat baik untuk beberapa bidang usaha. Diantaranya adalah brand-brand fashion yang sangat di banggakan oleh penduduk kota besar juga ada di kota kecil dan “tua” ini, seperti saja Louis Vuitton dan Gucci. Dan gaya hidup kota besar yang identik dengan cafe dan night life tidak ketinggalan, HardRock Cafe juga membuka franchise nya di kota “tua” ini.

Lagi-lagi 2 hari gw secara keseluruhan diisi oleh hal-hal baru dan menarik. Yah, ada sih beberapa hal yang kurang enak, tapi itu tidak sebanding dengan pengalaman besar yang gw peroleh. Hotel yang gw tempati pun kebetulan cukup nyaman dengan harga yang terjangkau dan sangat dekat dengan stasiun kreta, bus, dan halte boat.

So, kalo ada rencana ke Eropa, jangan lupa untuk mampir di kota Venezia yang Amazing ini…

Gracias! Chiao!

- AK -





“Banyak Jalan Menuju Roma”

29 12 2009

Sebuah kalimat dan peribahasa yang sudah gw buktikan sendiri baik secara arti sebagai peribahasa maupun sebagai kalimat, menuju ke Roma. Dulu hal ini tampaknya sebuah hal yang cukup susah untuk bisa diwujudkan, BUT…  it just happened, I have traveled to Rome!

akhirnya sampai juga di Basilica Santo Pietro

Dalam hidup ini, banyak sekali hal yang kita khawatiran yang menyebabkan kita menjadi “terbatasi” untuk bisa menemukan banyak hal baru atau pun mempertajam kesuksesan yang sudah kita miliki. Hal ini juga yang terjadi saat gw menjalanin karir dan kehidupan termasuk saat akan melakukan perjalanan ke Roma ini. Cukup banyak hal yang membuat perjalanan ini batal, bahkan bisa dikatanakan sudah 2x terjadi pembatalan dalam diri gw. Pembatalan pertama terjadi saat masih di Indonesia, begitu banyak situasi dan kondisi yang berubah-rubah sehingga tiket dan visa yang sudah ditangan pun tidak menjadi jaminan kuat lagi. Pembatalan kedua terjadi saat sudah berada di Belanda (Gw tinggalnya di Belanda, karena kakak gw ada di sana), gara-gara persiapan yang kurang dan bangun terlambat, tiket pesawat yang sudah ditangan hangus begitu saja.

 Tapi sesuai kata pepatah, “Dimana ada kemauan disitu ada jalan”, yang dikombinasikan dengan pepatah “Banyak jalan menuju Roma”, maka akhrinya perjalanan gw ke Roma pun terwujud juga. Perjalanan ini terjadi tidak pada waktu yang seperti direncana semula, merayakan Natal di Roma, tapi baru terjadi setelah Natal. Rencana untuk tinggal selama 4 hari pun berubah menjadi 2 hari. Tapi itu bukan masalah, gw tetap bisa menikmati Roma dengan baik.

Coloseum, salah satu situs sejarah kejayaan kerajaan Romawi Kuno

Selama di Roma, akhirnya gw bisa melihat secara langsung beberapa peninggalan sejarah dari kisah-kisah yang terdengar begitu megah dari buku, televisi, dan cerita para penikmat sejarah lainnya. Dan buat gw, semua itu benar. Coloseum, gereja St. Pieter dan gereja-gereja tua, tembok-tembok sejarah, dan bangunan-bangunan megah yang semuanya berasal dari jaman kerajaan Romawi kuno hingga Napoleon dan pemerintahan Roma setelahnya. Secara keseluruhan, Roma memang mempertahankan “ke-kuno-an” kotanya dengan cara terus mempertahankan lokasi-lokasi penemuan reruntuhan dari jama kerajaan romawi kuno hingga design asitektur bangunan-bangunan barunya pun diusahakan untuk tetap dengan mengukuti bangunan-bangunan lama yang masih ada dan bisa berfungsi dengan baik.

Tapi ke-kuno-an itu hanya untuk tampak luarnya saja. Di dalam bangunan-bangunan tersebut semuanya tetap mengikuti perkembangan jaman yang ada. Tampak luar itu mereka pertahankan bukan untuk membuat mereka terkungkung dalam kehidupan masa lalu tetapi justru mereka manfaatkan untuk mendapatkan devisa dari sisi pariwisata bagi pembangunan negara mereka. Sungguh suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan Indonesia. Demi keuntungan pihak-pihak tertentu beberapa pihak yang “berkepentingan” tanpa malu dan ragu membongkar sumber devisa kita dari pariwisata (masih pengen ketawa ingat kejadian seorang menteri meminta membongkar dan merusak sebuah situs sejarah karena menurut sejarah ada “harta terpedam”)

Castel Santo Angelo, kastil yang dibangun untuk Santo Angelo yang bertugas melindungi Basilica Santo Pietro

Untuk melihat semua situs-situs sejarah di Roma, sekalian berkeliling kota Roma, mereka sudah menyiapkan bus-bus khusus yang akan mengantarkan kita untuk bisa berkeliling ke setiap situs yang ada di Roma. Kita akan melihat dan mendengarkan penjelasan (dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris) dari situs-situs sejarah seperti Basilica sant’ Pietro, Castel Sant’ Angelo (kastil yang dibangun untuk melindungi Basilica), beberapa gereja lainnya dan Piazza-piazza seperti  Piazza Navona dan Piazza della Repubblica.

Akan tetapi, tidak semua di Roma itu indah. Terdapat juga banyak sekali lokasi yang penuh dengan coret-moret tidak beraturan bentuk “kreatifitas” orang-orang yang kurang bertanggungjawab. Dan sebagai sebuah kota yang sudah dikenal luas dan menjadi salah satu tujuan utama para turis baik dari dalam maupun luar eropa, penduduk Roma bisa dikatakan belum cukup siap untuk menjadi tuan rumah yang baik. Mereka sudah cukup ramah, tapi kendala bahasa masih sangat terasa. Sedikit sekali dari mereka yang bisa berbahasa Inggris, entah karena alasan apa hingga bisa seperti itu.

Piazza Venezia

Piazza Venezia

Namun, 2 hari (effektifnya cuma 1 hari penuh) gw di Roma, sudah cukup menyenangkan. Kendala bahasa bukanlah sebuah penghalang besar J . Walau gw tidak jadi ikut perayaan misa natal di Roma, tapi gw juga mendapatkan sebuah pengalaman lain di hari Natal, dinner bersama keluarga dari ipar gw.

Salah satu galian situs sejarah di tengah kota Roma yang dilindungi oleh pemerintah dan menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi para wisatawan

Ada hal lain juga yang gw makin paham dalam perjalanan ke Roma ini, bahasa verbal yang membuat manusia menjadi terpecah-pecah dalam kotak-kotak kecil dalam memahami satu sama lain, ternyata dapat dipatahkan oleh bahasa non-verbal (gerakan tubuh). Hal ini terjadi saat gw sedang menikmati pemandangan dari balkon hotel; ada sepasang Opa dan Oma yang juga ingin menikmati udara segar dipagi hari. Mereka menceritakan tentang Roma yang kaya akan peninggalan masa kejayaan kerajaan Roma dan betapa dia tidak pernah ada habisnya bisa menikmati Roma. Dia hari itu akan melakukan perjalanan ke Coloseum. Lumayan banyak hal yang kita bicarakan dan tertawakan bersama, dan semua itu berkat bantuan bahasa tubuh. Mereka hanya bisa berbicara dalam bahasa italia dan perancis, bahasa inggris mereka bisa dikatakan “nol besar”. Mereka hanya bisa beberapa kata namum perbincangan tetap berjalan.

Perbincangan gw dengan Opa dan Oma tadi merupakan akhir dari perjalanan gw di Roma. Setelah itu gw langsung bersiap-siap untuk melanjutkan liburan gw ke Venezia.

So, have you find your best way to Rome?

Gracias! Chiao!

- AK -